SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / mengajak jamaah untuk ikut memakmurkan Masjid dengan baca quran di masjid tiap jumat dari sehabis magrib sampai dengan isya dengan bimbingan Bp H. Rosyadi  dan di koordinasi oleh Bp. Fajar Share on: WhatsApp
  • 1 tahun yang lalu / Hadirilah kajian rutin Ahad pagi setiap bulan di pekan ke-2 jam 05.30-07.00 Share on: WhatsApp
  • 1 tahun yang lalu / Hadirilah Kajian Ba’da Subuh setiap hari Sabtu. Disediakan makanan ringan dan minuman. Share on: WhatsApp
WAKTU :

Imam Nawawi Melawan Kedzaliman Penguasa

Terbit 15 September 2019 | Oleh : masadmin | Kategori : Tak Berkategori
Imam Nawawi Melawan Kedzaliman Penguasa

Beliau mempunyai lengkap Al-Imam Abu zakaria, Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam An-Nawawi asy-syafi’i. Panggilannya Abu Zakaria. Beliau di gelar sebagai “Muhyiddin” (orang yang menghidupkan agama) akan tetapi beliau tidak menyukai gelar ini. Beliau lahir pada bulan Muharram tahun 631 H di kota Nawa di sebuah daerah Hauran sekitar 85 km dari kota Damaskus di Suriah.

Sewaktu masih kecil saat umur sepuluh tahun beliau di ajak bermain teman-temannya, namun beliau tidak mau untuk bermain. Teman temannya mengajak dengan memaksa supaya beliau mau di ajak untuk bermain. Beliau menolak dan menangis di ajak, di karenakan pada saat itu beliau sedang membaca Al Qur’an. Kebetulan saat itu di lihat oleh Syaikh Yasin bin Yusuf Al-Marakisyi. Kejadian itu membuat Syaikh Yasin terkesan dan menjadi cinta kepada anak tersebut. Syaikh tersebut langsung mendatangi ayah An-Nawawi dan menasehatinya Supaya tidak sibuk dengan daganggannya dan agar anaknya lebih di fokuskan  untuk belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu islam. Syaikh itu mendatangi guru ngaji An-Nawawi mengatakan bahwa anak ini insya allah kelak akan menjadi ulama rabbani dan banyak memberikan manfaat yang besar kepada umat islam. Perhatian ayah dan guru ngaji beliau pun menjadi besar sehingga beliau berhasil menghafal Al-Qur’an 30 juz sebelum usia baligh.

Ketika usia An-Nawawi telah mencapai 19 tahun ayahnya mengajak pergi ke Damaskus untuk menuntuk ilmu. An-Nawawi belajar di Madrasah Rawahiyyah selama kurang lebih dua tahun. Beliau mengerahkan segala kekuatan dan pikirannya untuk mendalami ilmu yang di berikan di sekolah. Beliau berhasil menghafal kitab At-Tanbih kurang lebih selama 4,5 bulan, Menghafal seperempat dari kitab Al-Muhadzdah selama 7,5 bulan. Beliau belajar dalam sehari dua belas pelajaran dari berbagai cabang ilmu islam dan bahasa arab dari banyak guru. Beliau juga mempelajari kitab-kitab ilmu islam yang lainnya, sampai gurunya yang bernama Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al-Maghribi kagum akan kesungguhannya dalam belajar ilmu agama islam.

Pada tahun 651 H An-Nawawi di ajak oleh ayahnya untuk menunaikam ibadah haji. Saat waktu wukuf bertepatan dengan hari jum’at dari awal bulan Rajab dan singgah di kota Madinah kira kira sebulan setengah. Ayah beliau bercerita”sejak mulai perjalanan dari desa Nawa, An-Nawawi jatuh sakit demam dan flu sampai waktu wukuf ia tidak pernah mengeluh dan tidak merintih sepatah kata pun”. Beliau menjalani cobaan tersebut dengan sabar dan ikhlas. Sesudah menunaikan ibadah haji beliau kembali lagi ke Damaskus, beliau giat menuntut ilmu dan mengamalkannya kepada orang lain.

Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhhud, wara’ dan bertakwa. Beliau sederhana qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktunya dalam ketaatan, beliau sedikit tidur dan malamnya banyak di gunakan untuk ibadah dan menulis. Beliau juga menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kepada para penguasa dengan cara yang bijaksana.

Pada satu ketika, kemarau panjang terjadi di bumi Syam. Tanah pertanian begitu kering, sementara banyak ternak yang mati. Rakyat pun hidup dalam kemiskinan. Dalam kondisi yang serbasulit ini, tersiar kabar jika bangsa Mongol dan Tartar akan menyerang. Mereka dikenal kejam dan sangat memusuhi Islam. Rakyat takut mereka akan menghancurkan Syam.

Raja Zhahir Baibars, penguasa Syam, memerintahkan seluruh rakyat Syam untuk membayar dana perang. Raja pun memanggil semua ulama untuk dimintai pertimbangannya. Dana perang harus terkumpul dan pendapat ulama akan dijadikan alat legitimasi. Banyak ulama sepakat, tetapi ada juga yang menolak. Namun, setelah diintimidasi aparat negara, mereka akhirnya menyetujui, bahkan ikut menyosialisasikannya. Meski begitu, masih ada ulama yang kukuh menolak rencana pengumpulan dana perang itu. Dialah Imam Nawawi. Sosok ulama Syafi’iyah ini memilih untuk mengambil risiko demi menjelaskan yang hak dan batil.

Raja pun mengumpulkan semua ulama di istana untuk mengesahkan undangundang itu. Imam Nawawi dikisahkan datang dengan muka tegak, berbeda dengan ulama lainnya yang menunduk. Dia memandang ke arah raja dan para pembesar yang mengelilinginya. Raja sempat bertanya mengapa sang imam tak mengikuti perintahnya. Dia pun menyangka sang imam ingin agar negerinya diduduki bangsa lain. Imam Nawawi berargumentasi, “Sesungguhnya rakyat Syam sekarang telah melarat. Berat bagi mereka untuk membayar dana perang. Terkait dana perang, bukankah masih ada dana lain yang bisa ditarik?”

Imam Nawawi lantas menyodorkan berbagai fakta yang terjadi. Dia mempertanyakan status raja yang sebelumnya merupakan budak dan belum membayar tebusan untuk memerdekakan dirinya. Fakta lainnya adalah ribuan pegawai kerajaan yang memiliki pakaian kebesaran mewah dan ditaburi emas permata. Tak hanya itu, istana pun memiliki dayangdayang dengan perhiasan dan pakaian mewah.

Tajamnya lidah Imam Nawawi membuat raja murka. Dia pun meng usir imam saleh itu dari negeri Syam. Imam Nawawi setuju dengan permintaan raja untuk pergi dari tanah kelahirannya sendiri. Uniknya, para ulama Syam me minta raja untuk mencabut keputusan itu. Mereka meminta sang imam di kembalikan lagi ke Damaskus. Meski raja sudah menyetujuinya, sang imam menolak. Imam Nawawi hanya akan masuk kembali ke Damaskus jika raja itu keluar dari istananya. Sebulan setelah kejadian itu, raja mangkat dan Imam Nawawi kembali ke kampung halamannya.

Dikutip dan disusun dari: https://www.kompasiana.com/abdau/56c7feb8d69373b7110b8114/kisah-imam-nawawi-rahimahullah & https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/06/29/ptukca313-kisah-imam-nawawi-melawan-penguasa

SebelumnyaWafatnya Sang Imam SesudahnyaIstighfar Penjual Roti dan Sang Imam

Berita Lainnya